BUOLNewsline.Id- Memasuki 9 bulan kemarau panjang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, mencatat sedikitnya 34 titik lokasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tersebar di beberapa kecamatan mengalami kebakaran hebat. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan pemukiman warga di tengah krisis air bersih.
Upaya pemerintah daerah yang dibantu TNI/Polri /Danlanal serta tim pemadam kebakaran belum mampu sepenuhnya menaklukkan si jago merah. Pasalnya, lahan yang terbakar tidak mudah ditembus dengan kendaraan pemadam kebakaran. Medan yang bergunung, terjal, dan sulitnya akses jalan menuju lokasi menjadi kendala utama yang menghambat proses pemadaman di lapangan.
Meski dengan keterbatasan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI/Polri, dan masyarakat setempat terus berupaya mencegah meluasnya kebakaran. Mereka bekerja keras menggunakan peralatan sederhana untuk memadamkan api, mulai dari ranting pohon hingga alat pemukul api manual demi memutus rantai api agar tidak merembet ke permukiman warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buol, Moh. Kacfi Marzuni, mengungkapkan titik terparah berada di Desa Binuang, Kecamatan Bukal. Menurutnya, luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai kurang lebih 90 hektar, belum termasuk di kecamatan lain seperti Momunu dan Bunobogu yang juga terpantau membara.
“Data yang kami peroleh, kebakaran hutan yang terparah berada di Desa Binuang, Kecamatan Bukal, luas lahan terbakar mencapai kurang lebih 100 hektar belum termasuk di kecamatan lain seperti Momunu dan Bunobogu,” ungkapnya.
Ia juga mengakui keterbatasan sarana menjadi tantangan tersendiri dalam proses pemadaman. “Kami bersama tim selalu bertindak cepat jika ada laporan kebakaran, namun dukungan perlengkapan seperti kendaraan pengangkut air sulit. Dan kita bersyukur mobil water canon pengangkut air dari Polres Buol selalu tampil dengan cepat bersama tim lain ikut terjun langsung ke lapangan,” ungkap Kacfi kepada media ini,usai mengikuti rakor Karhutla di kantor Bupati Selasa (15/9/2026).
Dampak dari karhutla ini pun mulai dirasakan petani. Kabut asap tebal mengganggu aktivitas warga dan mengancam gagal panen akibat kekeringan berkepanjangan. Pemerintah daerah kini tengah menyiapkan langkah darurat, termasuk dropping air bersih ke desa-desa yang terdampak paling parah.
BPBD mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar di tengah musim kemarau ekstrem ini. Pemerintah berharap partisipasi warga untuk menjaga hutan dan lahan, mengingat akses pemadaman yang sangat sulit dan angin kencang dapat mempercepat penyebaran api kapan saja.(**)
Penulis : Rustam Baculu
Sumber Berita: Kalak BPBD BUOL










