BUOLNEWSLINE.ID – Memasuki September 2026, kemarau panjang akibat El Nino yang melanda Kabupaten Buol Sulawesi Tengah mulai menunjukkan dampak yang serius. Puluhan hektar tanaman jagung dan padi sawah terancam gagal panen karena kekeringan yang melanda sejumlah wilayah.
Sejak beberapa bulan terakhir hujan tak kunjung turun. Debit air sungai menyusut drastis dan saluran irigasi pertanian mengering. Tanaman jagung mulai puso, bahkan puluhan hektar mati. Tanah sawah mulai retak dan terbelah. Akibatnya, petani kesulitan mendapatkan pasokan air untuk mengairi lahan mereka.
Dampaknya sudah terlihat jelas di lapangan. Hamparan sawah yang biasanya hijau kini berubah cokelat dan retak. Tanaman padi yang masih dalam masa pertumbuhan terpaksa layu karena kekurangan air. Para petani hanya bisa menatap dengan cemas, khawatir hasil panen tahun ini akan anjlok.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Nasib serupa juga menimpa petani jagung. Di beberapa kecamatan ratusan hektar tanaman jagung yang usia tanamnya berkisar 30 45 hari ikut terancam mati. Daun jagung menguning dan batangnya mengering karena tidak mendapat cukup air. Bukan hanya sawah, masyarakat di beberapa desa dan sebagian wilayah kota juga mulai merasakan kekurangan air bersih. Sumber mata air yang biasanya jadi andalan kini mulai berkurang.
“Kami sudah 8 bulan menunggu hujan. Tapi sampai sekarang panas terus. Kalau begini terus, bisa gagal panen semua,” ujar Mukti, salah seorang petani di Kecamatan Tiloan dengan nada cemas kepada media ini, Rabu 2/9/2026.
Pantauan di lapangan menunjukkan kekeringan El Nino tahun ini terasa lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Beberapa sumber irigasi utama yang biasa jadi andalan petani di Buol juga mengalami penurunan debit air yang signifikan. Harapan untuk menanam dan panen seperti tahun lalu kini mulai pupus.
Di tengah situasi sulit ini, harapan para petani kini hanya tertuju pada turunnya hujan. Mereka juga berharap ada perhatian dari pemerintah berupa bantuan pompa air, sumur bor, atau bantuan benih untuk tanam ulang jika benar-benar terjadi gagal panen. Tanpa bantuan, banyak keluarga petani khawatir tidak bisa bertahan.
Jika kemarau terus berlanjut, ancaman gagal panen ini tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga pada ketahanan pangan Kabupaten Buol secara keseluruhan. “Ya itu harapan kami sebagai petani, semoga hujan cepat turun,” ujar Mukti, diamini petani lainnya. Doa dan harap yang sama kini menggantung di langit Buol yang masih panas.(*)
Penulis : Rustam Baculu










