BuolNewsline. id — Ruas jalan Bongo-Duamayo di Kabupaten Buol Sulawesi Tengah kembali menjadi sorotan. Kondisinya rusak parah hingga puluhan tahun tak tersentuh aspal. Sementara desa-desa lain sudah menikmati jalan mulus, warga Duamayo masih bergulat dengan kubangan lumpur setiap kali hujan turun.
Pemerintah Kabupaten dan Dinas PUPR Buol dituding menutup mata. Buktinya jelas. Sejak puluhan tahun lalu usulan perbaikan jalan ini tak pernah terealisasi. Padahal ruas tersebut adalah urat nadi utama bagi petani, guru, dan siswa di dua desa perbatasan itu.
Musim hujan jadi mimpi buruk Jalan becek dan berlumpur membuat kendaraan tak bisa lewat. Siswa dan guru terpaksa jalan kaki ke sekolah dengan seragam penuh lumpur. Para petani juga bernasib sama, harus memikul hasil panen dari kebun menuju rumah karena motor tak sanggup menembus jalan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Upaya dari bawah sudah mentok. Pemerintah Desa Duamayo mengaku sudah berulang kali memperjuangkan. Setiap Musrembang tahunan selalu diusulkan. Setiap kali Reses anggota DPRD Buol utamnaya dari Davil III juga sama, nama jalan Bongo-Duamayo selalu masuk daftar. Tapi hasilnya? Nihil.
“Saya sudah beberapa kali menghadap ke dinas PUPR memohon agar jalan kami di perhatikan tapi hasilnya nol,” ungkap Kades Duamayo, Barto Layuk, kepada media ini, Senin 7/9/2026. Nada kecewa itu bukan tanpa alasan. Warga merasa lelah hanya diberi janji.
Alasan klasik kembali keluar dari dinas. Pihak PUPR selalu berdalih anggaran daerah kurang. Ditambah lagi efisiensi anggaran jadi tameng utama yang disampaikan ke pemdes. Padahal kondisi di lapangan sudah darurat dan butuh penanganan segera.
Kades Barto menjelaskan Kerusakan terparah terjadi mulai dari batas Desa Bokat IV sampai ujung Desa Duamayo. Di titik itu jalan benar-benar hancur. Tak ada batu, tak ada pengerasan. Yang ada hanya tanah liat yang licin saat hujan dan berdebu saat kemarau. Akses ekonomi dan pendidikan lumpuh total di titik itu.terkadang masyarakat dan pemdes kerja bakti perbaiki jlan rusak agar bisa di lalui .
Warga kini menuntut keadilan dan kehadiran pemimpin. Kades bersama masyarakat meminta Bupati Buol, Risharyudin Triwibowo, turun langsung melihat kondisi jalan yang setiap hari dilalui petani, guru, dan siswa. Mereka ingin bupati merasakan sendiri bagaimana rasanya berjalan di atas lumpur demi mengajar dan mencari nafkah.
“Itulah harapan masyarakat dan tenaga pendidik agar bupati bisa melihat langusng desa tersebut, kami butuh jalan dan bukan janji. ” Ujar Barto
Pertanyaannya sederhana: sampai kapan Duamayo harus jadi anak tiri? Jika pembangunan hanya dinikmati desa yang dekat kota, lalu keadilan untuk warga perbatasan di mana? Tanpa jalan layak, Buol hanya akan punya statistik pembangunan bukan pembangunan yang benar-benar dirasakan rakyatnya. “Kami berharap semoga tahun ini segera di realisasikan usulan masyarakat.” Pungkas Kades Barto Layuk(**)
Penulis : Rustam Baculu
Sumber Berita: Pemdes dan masyarakat desa Duamayo










