Oleh: Firdaus Pemerhati Ekonomi
BuolNewsline. Id– Ekonomi di kabupaten kita tidak sedang baik-baik saja. Denyutnya mulai melemah. Perputaran uang yang dulu ramai di pasar, di pelabuhan, di kios, kini seperti air yang surut. Pelan, tapi mematikan.
Tanda paling nyata: banyak pelaku usaha mulai gulung tikar. Bukan karena malas. Tapi karena modal habis. Uang tidak berputar. Pembeli berkurang. Barang menumpuk. Pada akhirnya, lebih baik tutup daripada terus gali lubang utang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dan pukulan bertubi-tubi itu datang bersamaan dengan persoalan paling dasar: BBM. Pendistribusian mulai langka. Di SPBU kosong. Di lapangan, rakyat dipaksa beli ke pengecer.
Ironisnya di tangan pengecer Pertalite dijual bebas dengan harga seenaknya. Ada yang 20 ribu ada yang 25 ribu per botol. Tergantung ukuran dan tergantung mood penjual. Negara seperti tutup mata.
Padahal BBM itu urat nadi. Tanpa BBM, mesin ekonomi tidak jalan. Dan yang paling terpukul adalah dua tulang punggung Buol: petani dan nelayan.
Petani butuh BBM untuk pompa air, untuk traktor. Nelayan butuh untuk mesin kapal. Sekarang Mau beli susah. Kalau ada harganya mencekik. Hasilnya: banyak yang pilih diam di rumah. Tidak ke kebun. Tidak melaut.
Seakan belum cukup, langit juga tidak bersahabat. Saat ini kita sudah 9 bulan kemarau. Sungai kering. Sumur kering. Tanah retak.
Petani menangis melihat tanaman penopang keluarga mati di depan mata. Jagung layu. Padi gagal panen. Sayur gosong sebelum dipetik. Harapan satu-satunya untuk bayar sekolah anak, untuk makan, musnah karena kemarau.
Lebih perih lagi, utang di tengkulak tidak terbayar. “Gaga pane” istilahnya. Panen gagal utang tetap jalan. Tengkulak tetap datang menagih. Sementara pemasukan nihil karena tidak ada hasil yang bisa dijual.
Ini lingkaran setan yang sempurna. Kemarau panjang bikin gagal panen. BBM langka bikin ongkos naik. Usaha mati karena tidak ada perputaran. Ujungnya: rakyat yang menanggung.
Pemerintah mungkin masih sibuk rapat dan bilang “kondisi terkendali”. Tapi coba turun ke desa. Tanya petani. Tanya nelayan. Tanya pemilik warung yang tokonya sudah 2 bulan sepi. Mereka yang rasakan langsung.
Kalau dibiarkan, Buol sedang berjalan menuju krisis. Bukan krisis besar yang meledak. Tapi krisis pelan-pelan: usaha tutup satu-satu, orang lapar, utang menumpuk, anak putus sekolah.
Sudah saatnya ada langkah nyata. Perbaiki distribusi BBM. Awasi pengecer nakal. Beri bantuan nyata untuk petani terdampak kemarau 9 bulan ini. Bukan janji. Bukan data. Tapi beras, bibit, dan solar subsidi yang benar-benar sampai.belum lagi kemarau puluhan hektar tanaman petani padi dan jagung mati sehingga gagal panen, utang di tengkulak bukan alasan tiap panen harus bayar.
Karena kalau petani mati, nelayan berhenti, dan usaha kecil bangkrut lalu siapa yang mau menghidupkan ekonomi Buol
Jangan sampai terlambat Karena tangis petani hari ini bisa jadi tangis kita semua besok
Pemerintah kabupaten di minta agar segra mengambil sikap atas kondisi ini..(*)
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Pemerhati Ekonomi Kabupaten Buol)










