Potensi Sumber Daya Alam Buol Melimpa Saatnya Bupati Kelima Wujudkan Impian
Oleh : Arlan Rahman Aktifis Pemuda Buol
Sejak Kabupaten Buol resmi dimekarkan dan berdiri sebagai daerah otonom, harapan masyarakat akan lahirnya tata kelola pembangunan yang lebih mandiri, maju, dan berkeadilan menjadi cita-cita besar. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Buol sesungguhnya memiliki modal kuat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun setelah melewati kepemimpinan dari Bupati pertama hingga kini memasuki Bupati kelima, perjalanan panjang itu menyisakan satu ruang kosong yang belum juga terisi secara maksimal: pengelolaan sumber daya alam yang strategis, berkelanjutan, dan berpihak pada rakyat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
SDA Melimpah, Tapi Tidak Menjadi Sorotan Utama
Di tengah potensi mineral, perkebunan, laut, hutan, hingga energi yang terbentang luas, Buol justru belum menempatkan sektor sumber daya alam sebagai fokus kebijakan prioritas. Banyak kebijakan daerah berjalan, tetapi tidak menyentuh akar utama yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat secara signifikan.
Isu pengelolaan sumber daya mineral—seperti tambang emas, galian C, hingga potensi mineral lainnya—masih terus menjadi perdebatan antara halal dan haram, antara boleh dan tidak boleh, tanpa kejelasan arah yang konsisten. Akibatnya, potensi yang seharusnya dapat dikelola secara profesional dan legal justru banyak bergerak di area abu-abu, merugikan pemerintah dan tidak menyejahterakan masyarakat.
Lima Periode Kepemimpinan, PR yang Sama
Perjalanan lima bupati membawa karakter dan pendekatan pembangunan yang berbeda-beda. Namun satu persoalan yang belum tersentuh secara mendalam adalah hadirnya kebijakan strategis yang memanfaatkan potensi SDA sebagai lokomotif ekonomi daerah.
Dari masa ke masa:
Belum lahir peta jalan (roadmap) pengelolaan mineral yang modern.
Belum ada konsolidasi lintas dinas untuk mengawal perizinan, pengawasan, dan pemanfaatan SDA.
Belum tumbuh keberanian politik untuk membuka ruang eksplorasi legal dan profesional yang memberi manfaat langsung kepada PAD dan masyarakat.
Yang muncul justru keraguan, ketakutan berlebih, atau tarik-menarik kepentingan yang membuat ekonomi stagnan.
Padahal, jika tata kelola dikuatkan, Buol tidak harus tergantung pada APBD semata—pendapatan daerah bisa melonjak dari sektor pertambangan, perkebunan, dan kelautan.
SDM Buol Sesungguhnya Sangat Mumpuni
Ironisnya, perdebatan soal “halal dan haram” dalam sektor mineral seringkali dianggap sebagai hambatan utama, padahal Buol sesungguhnya kaya akan sumber daya manusia yang berkompeten. Banyak putra-putri daerah yang memiliki keahlian:
Geologi
Pertambangan
Ekonomi sumber daya alam
Manajemen lingkungan
Hukum pertambangan
Teknologi industri
Perencanaan wilayah
Mereka sejatinya siap memegang peran penting dalam proses perencanaan, pengawasan, hingga operasional pengelolaan SDA. Sayangnya, SDM ini belum diberdayakan secara maksimal. Talenta lokal justru sering “terpinggirkan” oleh kebijakan politik yang tidak memprioritaskan keahlian.
Saatnya Buol Berani Melangkah
Kabupaten Buol tidak boleh terus berjalan di tempat. Dengan modal SDA yang melimpah dan SDM yang kuat, hanya diperlukan:
Keberanian politik (political will) pemerintah daerah.
Penyusunan regulasi dan roadmap pengelolaan SDA yang jelas.
Penguatan perizinan berbasis data dan kajian profesional.
Memberdayakan SDM lokal sebagai pilar utama.
Kolaborasi dengan lembaga profesional untuk pengawasan ketat dan berkelanjutan.
Jika langkah-langkah itu dijalankan, Buol tidak hanya akan keluar dari stagnasi, tetapi juga mampu berdiri sebagai kabupaten yang maju dan mandiri secara ekonomi.
Penutup
Buol telah melewati lima periode kepemimpinan, namun pengelolaan sumber daya alam masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum tersentuh secara optimal. Sudah saatnya pemerintah daerah melihat SDA bukan sebagai isu sensitif atau menakutkan, tetapi sebagai modal masa depan yang dapat dikelola secara profesional, legal, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat.
Dengan SDM yang mumpuni dan potensi alam yang kaya, Buol sesungguhnya hanya membutuhkan satu hal: keputusan untuk berani maju.(*)
Tim Redaksi.










