Kekayaan Alam Buol Melimpa Aktifis Pemuda Angkat Bicara

Rabu, 3 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potensi Sumber Daya Alam Buol Melimpa Saatnya Bupati Kelima Wujudkan Impian

Oleh : Arlan Rahman Aktifis Pemuda Buol

Sejak Kabupaten Buol resmi dimekarkan dan berdiri sebagai daerah otonom, harapan masyarakat akan lahirnya tata kelola pembangunan yang lebih mandiri, maju, dan berkeadilan menjadi cita-cita besar. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Buol sesungguhnya memiliki modal kuat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun setelah melewati kepemimpinan dari Bupati pertama hingga kini memasuki Bupati kelima, perjalanan panjang itu menyisakan satu ruang kosong yang belum juga terisi secara maksimal: pengelolaan sumber daya alam yang strategis, berkelanjutan, dan berpihak pada rakyat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

SDA Melimpah, Tapi Tidak Menjadi Sorotan Utama
Di tengah potensi mineral, perkebunan, laut, hutan, hingga energi yang terbentang luas, Buol justru belum menempatkan sektor sumber daya alam sebagai fokus kebijakan prioritas. Banyak kebijakan daerah berjalan, tetapi tidak menyentuh akar utama yang mampu menggerakkan ekonomi rakyat secara signifikan.

Isu pengelolaan sumber daya mineral—seperti tambang emas, galian C, hingga potensi mineral lainnya—masih terus menjadi perdebatan antara halal dan haram, antara boleh dan tidak boleh, tanpa kejelasan arah yang konsisten. Akibatnya, potensi yang seharusnya dapat dikelola secara profesional dan legal justru banyak bergerak di area abu-abu, merugikan pemerintah dan tidak menyejahterakan masyarakat.

Lima Periode Kepemimpinan, PR yang Sama
Perjalanan lima bupati membawa karakter dan pendekatan pembangunan yang berbeda-beda. Namun satu persoalan yang belum tersentuh secara mendalam adalah hadirnya kebijakan strategis yang memanfaatkan potensi SDA sebagai lokomotif ekonomi daerah.

Dari masa ke masa:

Belum lahir peta jalan (roadmap) pengelolaan mineral yang modern.

Belum ada konsolidasi lintas dinas untuk mengawal perizinan, pengawasan, dan pemanfaatan SDA.

Belum tumbuh keberanian politik untuk membuka ruang eksplorasi legal dan profesional yang memberi manfaat langsung kepada PAD dan masyarakat.

Yang muncul justru keraguan, ketakutan berlebih, atau tarik-menarik kepentingan yang membuat ekonomi stagnan.

Padahal, jika tata kelola dikuatkan, Buol tidak harus tergantung pada APBD semata—pendapatan daerah bisa melonjak dari sektor pertambangan, perkebunan, dan kelautan.

SDM Buol Sesungguhnya Sangat Mumpuni
Ironisnya, perdebatan soal “halal dan haram” dalam sektor mineral seringkali dianggap sebagai hambatan utama, padahal Buol sesungguhnya kaya akan sumber daya manusia yang berkompeten. Banyak putra-putri daerah yang memiliki keahlian:

Geologi

Pertambangan

Ekonomi sumber daya alam

Manajemen lingkungan

Hukum pertambangan

Teknologi industri

Perencanaan wilayah

Mereka sejatinya siap memegang peran penting dalam proses perencanaan, pengawasan, hingga operasional pengelolaan SDA. Sayangnya, SDM ini belum diberdayakan secara maksimal. Talenta lokal justru sering “terpinggirkan” oleh kebijakan politik yang tidak memprioritaskan keahlian.

Saatnya Buol Berani Melangkah
Kabupaten Buol tidak boleh terus berjalan di tempat. Dengan modal SDA yang melimpah dan SDM yang kuat, hanya diperlukan:

Keberanian politik (political will) pemerintah daerah.

Penyusunan regulasi dan roadmap pengelolaan SDA yang jelas.

Penguatan perizinan berbasis data dan kajian profesional.

Memberdayakan SDM lokal sebagai pilar utama.

Kolaborasi dengan lembaga profesional untuk pengawasan ketat dan berkelanjutan.

Jika langkah-langkah itu dijalankan, Buol tidak hanya akan keluar dari stagnasi, tetapi juga mampu berdiri sebagai kabupaten yang maju dan mandiri secara ekonomi.

Penutup
Buol telah melewati lima periode kepemimpinan, namun pengelolaan sumber daya alam masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum tersentuh secara optimal. Sudah saatnya pemerintah daerah melihat SDA bukan sebagai isu sensitif atau menakutkan, tetapi sebagai modal masa depan yang dapat dikelola secara profesional, legal, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Dengan SDM yang mumpuni dan potensi alam yang kaya, Buol sesungguhnya hanya membutuhkan satu hal: keputusan untuk berani maju.(*)

Tim Redaksi.

Berita Terkait

Zainudin J Hamir : Jalan Santai Harlah Ke 28 PKB Panita Transparan, Tidak Ada Pemenang Diatur
Validasi Data Jadi Kunci, Sensus Ekonomi 2026 Siap Petakan Usaha di Buol
Lulusan SMKN 1 Bokat Diburu Perusahaan, Sekolah Optimis Dongkrak Tenaga Kerja
Program Gizi Gratis Berubah Jadi Mimpi Buruk: 15 Siswa SD di Bokat Diduga Keracunan Massal
Tonggak Sejarah Baru, Peletakan Batu Pertama Gedung KUA Kecamatan Gadung Digelar di Desa Bolagidun
Hangatkan Silaturahmi Kemenag Buol Gelar Pengajian Rutin dengan Tausiah Keutamaan Sedekah
Pemdes Tang Gandeng PT HIP Gelar Pengobatan Gratis dan Beri Cendramata untuk Lansia
PUPR Buol Prioritaskan Penataan Kota Biau dan Paleleh Wilayah Perbatasan Akan Jadi Ikon Daerah
Berita ini 55 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 22:38

Zainudin J Hamir : Jalan Santai Harlah Ke 28 PKB Panita Transparan, Tidak Ada Pemenang Diatur

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:58

Validasi Data Jadi Kunci, Sensus Ekonomi 2026 Siap Petakan Usaha di Buol

Rabu, 29 Juli 2026 - 16:43

Lulusan SMKN 1 Bokat Diburu Perusahaan, Sekolah Optimis Dongkrak Tenaga Kerja

Rabu, 29 Juli 2026 - 15:15

Program Gizi Gratis Berubah Jadi Mimpi Buruk: 15 Siswa SD di Bokat Diduga Keracunan Massal

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:25

Hangatkan Silaturahmi Kemenag Buol Gelar Pengajian Rutin dengan Tausiah Keutamaan Sedekah

Berita Terbaru