Penulis Adalah : Suleman Dj. Latantu – Wartawan Senior
BuolNewsline.ID- Kepemimpinan di Buol saat ini menarik untuk dicermati. Bukan karena pencitraan, tapi karena polanya berbeda. Bupati dan Wakil Bupati tampil sebagai satu paket yang saling mengisi.
H. Risharyudi Triwibowo, S.E., M.M. sebagai Bupati adalah sosok teknokrat-manager. Latar belakangnya di birokrasi dan perencanaan terlihat jelas. Ia bicara dengan data, RPJMD, dan dokumen. Sementara Dr. Moh. Nasir Dj. Daimaroto, S.H., M.H. sebagai Wakil Bupati adalah sosok akademisi-hukum yang memberikan keseimbangan yuridis dan keagamaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dua kutub inilah yang kemudian melahirkan visi “Mewujudkan Buol Agamis sebagai Daerah Agropolitan yang Maju dan Berkelanjutan” untuk periode 2025-2029.
Lalu apa yang sudah terlihat dalam 9 bulan terakhir?
Pertama Pembenahan dari Dalam. Risharyudi-Nasir memulai bukan dari proyek mercusuar tapi dari disiplin ASN. Saat apel perdana Januari 2026, 1.233 PPPK dilantik dan di hari yang sama peringatan keras soal disiplin ditegakkan. Buol bahkan menjadi daerah pertama di wilayah Kanreg IV BKN Makassar yang mendapat rekomendasi manajemen talenta. Sinyalnya jelas: sebelum membangun daerah, benahi dulu orangnya.
Kedua Keberanian Meletakkan Visi di Atas Kertas.Banyak kepala daerah punya visi bagus tapi berhenti di baliho. Pada 13 Oktober 2026, Risharyudi membuka Seminar Akhir Dokumen Perencanaan Kawasan Agropolitan bersama Bappeda Litbang. Artinya, visi Agropolitan diterjemahkan menjadi dokumen perencanaan yang bisa diuji, bukan sekadar jargon. Potensi sawit, padi, kakao, dan perikanan di Buol memang besar, tapi selama ini berjalan sendiri-sendiri. Konsep Agropolitan ingin menyatukannya menjadi rantai nilai ekonomi. Bahkan pada Juni 2026, Risharyudi ikut dalam rombongan Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit bertemu Dewan Energi Nasional membahas B50. Ini cara cerdas menempatkan Buol dalam peta nasional.
Ketiga Ujian di Lapangan: Karhutla dan Layanan 112. Kepemimpinan tidak diuji saat seminar, tapi saat krisis. September 2026, lebih dari 100 titik api Karhutla terdeteksi di Buol. Risharyudi tidak hanya rapat di Aula Lantai II Kantor Bupati tapi turun langsung ke Lapangan Desa Pomayagon, Momunu, memimpin apel siaga. Kalimatnya saat itu menohok: “Kita tidak bisa hanya jadi penonton. Kita harus jadi pemadam.” Di saat yang sama layanan darurat 112 diluncurkan di Mall Pelayanan Publik Februari 2026. Ini kolaborasi nyata Bupati-Wabup: Bupati mengurus eksekusi lapangan, Wabup memastikan payung hukum dan SOP berjalan.
Keempat Investasi Jangka Panjang: SDM.Program RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) bersama Untad mungkin tidak populer secara elektoral, tapi ini investasi 10-20 tahun ke depan. Puluhan aparatur desa yang tidak sempat kuliah formal diberi kesempatan pengalamannya diakui menjadi ijazah. Target 100 mahasiswa adalah langkah kecil yang dampaknya besar untuk kualitas pelayanan desa.
Catatan Kritis
Tentu tidak semua mulus. Tantangan Risharyudi-Nasir ada tiga: 1.Eksekusi Anggaran Agropolitan, bagaimana memastikan investasi agroindustri benar-benar masuk. 2.Karhutla Berulang, sistem deteksi dini di desa masih lemah. 3.Komunikasi Publik, masih banyak program baik yang tidak sampai ke masyarakat bawah.
Selanjutnya
Buol tidak butuh pemimpin yang hanya pandai meresmikan proyek. Buol butuh pemimpin yang mau repot menyusun sistem. Sejauh ini, duet Risharyudi-Nasir menunjukkan ke arah itu. Jika kolaborasi ini terjaga sampai 2029, bukan tidak mungkin jargon “Buol Agropolitan” benar-benar terasa di dapur petani, bukan hanya di ruang rapat.(Bersambung).
Editor : Rustam










