BuolNewsline.id- Puluhan hektare sawah petani di Desa Boilan Kecamatan Tiloan, Kabupaten Buol Sulawesi Tengah kini terancam tidak bisa diolah. Musim kemarau panjang atau El Nino yang sudah melanda selama 10 bulan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, membuat harapan petani perlahan memudar.
Tanah yang semestinya sudah memasuki musim tanam ketiga kini mengering dan pecah-pecah. Saluran irigasi yang biasanya mengalir, kini tidak berair akibat terik matahari yang menyengat setiap hari. Pemandangan sawah yang retak menjadi potret pilu bagi warga yang menggantungkan hidup dari bertani.
Keresahan itu dirasakan langsung oleh para petani. Mereka kini harus memutar otak mencari solusi lain untuk menghidupi keluarga di rumah. Sawah yang menjadi tumpuan ekonomi, kini hanya bisa ditatap tanpa bisa digarap.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saat ini kami hanya menatap sawah yang sudah kering tidak ada air sehingga saya tidak bisa olah,” ungkap Jayadi petani sawah di Tiloan kepada media ini Minggu (18/10/2026).
Nasib serupa juga dialami petani jagung. Adalah Tamrin, petani jagung di Boilan, yang kini harus merelakan tanamannya mati mengering diterpa panas matahari. Ada yang gagal panen, ada pula yang bahkan gagal tanam sejak awal.
“Biaya pengeluaran sudah tidak terhitung lagi belum pinjaman kepada tengkulak dan kios yang harus dibayar. Kalau kebun jagung saya tidak ada hasilnya semua yang kami harap sekeluarga sia-sia,” keluh Tamrin.
Meski dihantam kemarau panjang, para petani tetap mencoba tegar. “Dan mungkin ini cobaan semua, tapi kita tetap sabar menghadapinya,” sambung Tamrin dengan nada pasrah.
Kini para petani di Boilan hanya bisa berharap ada perhatian dari pemerintah daerah dan turunnya hujan. Bagi mereka, air bukan sekadar untuk tanaman tapi untuk menyambung hidup keluarga. Di tengah sawah yang retak kesabaran mereka menjadi satu-satunya yang masih bertahan(*)
Penulis : Rustam Baculu










