Buol!NEWSLINE.Id – Masyarakat di Kelurahan Buol Kecamatan Biau digegerkan dengan penemuan ribuan ikan mati yang terdampar di pantai kejadian ini pada Sabtu (17/1/2026).
Fenomena alam ini disebut-sebut baru terjadi beberapa puluh tahun terakhir membuat warga sekitar heboh dan berdatangan untuk mengambil ikan tersebut dan menfaatkan untuk foto di tengah tumpukan ikan.
“Kami kaget setelah melihat tumpukan ikan yang mati terdampar di pantai,” kata Sumiati warga Buol kepada media ini, Minggu (18/1/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemandangan unik ini terjadi ketika nelayan jaring ikan dampar dari Lingkungan Buoyong, Kelurahan Buol, menemukan tumpukan ikan mati di pantai belakang Pertamina, Kelurahan Kali.
Kepala Dinas (Kadis) Perikanan Kabupaten Buol, Dr. Thonang, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena ikan piok yang terjaring oleh nelayan di perairan dangkal.
Adapun Kronologis kejadian Pada hari Sabtu 17 Januari 2026 ada kelompok nelayan jaring ikan dampar dari lingkungan Buoyong Kelurahan Buol melaksanakan aktifitasnya dimalam hari tepat dilokasi pantai Kelurahan Kali/belakang Pertamina. Nelayan itu berharap bahwa ikan yang masuk ke jaring dampar adalah ikan katombo, kembung maupun ikan putih lainnya yang bisa menambah isi kantong dan kebulnya asap dapur namun ternyata setelah sampai di tepi pantai ternyata Boyo piok kejadian ini biasa juga di pengaruh oleh fenomena alam upwelling biasa suhu di dalam permukaan laut dingin dan diatas suhu air panas karena cuaca ektrim dan ini setiap tahun terjadi tahun lalu juga begitu. Ini juga pengaruh sampah2 laut biasa juga ada yg buang olih bekas sembarangan serta bekas sampah plastik.
Dr. Thonang menyatakan bahwa saat ini ikan kotombo lagi banyak di perairan dangkal yang dijaring oleh nelayan, tapi tidak terdampar dengan sendirinya.
. “Ini hanya fenomena alam biasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ujarnya
Kadis Thonang mengimbau masyarakat untuk tidak berasumsi lain dan tidak menyebarkan opini bahwa ikan-ikan tersebut akibat gempa atau fenomena lainnya yang dapat meresahkan warga.
“Kita minta warga jangan berasumsi lain dan kita juga sudah menyampaikan ke dinas DLH untuk melakukan pengambilan sampel laboratorium untuk mengetahui hasil yang sebenarnya .” ujar Thonang.(*).
Redaksi










